Langsung ke konten utama

STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ORANG ASLI PAPUA

Strategi Pemberdayaan Masyarakat Orang Asli Papua 

di Wilayah Adat Meepago, Provinsi Papua Tengah


Oleh: Marinus Moy Yumai, Ismail Nurdin, Margaretha Rumbekwan
Diterbitkan dalam: Jurnal Scientia, Vol. 13 No. 03 (2024)


🔍 Ringkasan Abstrak

Penelitian ini mengkaji strategi pemberdayaan yang diterapkan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) di wilayah adat Meepago, Papua Tengah, dengan menekankan pentingnya kearifan lokal dan penggunaan pendekatan ekosistem dalam konteks Revolusi Industri 4.0.


🧠 Kerangka Teori Utama

  1. Teori Jungho Roh (2018) – Fokus pada peningkatan kinerja pemerintahan.

  2. Analisis ASOCA – Alat strategis yang mencakup:

    • Ability (Kemampuan)

    • Strength (Kekuatan)

    • Opportunities (Peluang)

    • Culture (Budaya)

    • Agility (Kelincahan)
      (Dikembangkan oleh Suradinata, 2014) – Model yang memperkaya strategi pengambilan keputusan dengan memasukkan elemen budaya dan kecerdasan adaptif yang penting dalam menghadapi perubahan lingkungan.


🛠️ Metodologi

  • Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

  • Analisis deskriptif melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi partisipatif.

  • Bertujuan untuk membentuk model ideal pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal dan sinergi ekosistem.


🌱 Temuan Utama

  • Kearifan lokal berperan sebagai penjaga budaya sekaligus penggerak inovasi.

  • Pemberdayaan yang berbasis kearifan lokal mampu menjembatani kesenjangan antara tradisi dan modernitas.

  • Pendekatan ekosistem (kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta) menghasilkan sinergi yang efektif dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

REFREHENSI 

Ateh, M.Y., Berman, E., & Prasojo, E. (2020). Intergovernmental Strategies Advancing Performance Management Use. Public Performance & Management Review,1-32.
Behn, R. D. (2001). Rethinking Democratic Accountability. In Washington, DC: Brookings Institution Press.
Behn, R. D.(2003).Why Measure Performance? Different Purposes Require Different Measures.Public Administration Review,63(5),1-14.
Bovens, Mark. (1998). The Quest for Respon sibility: Accountability and Citizenship in Complex Organization. Cambridge UK: Cambridge University Press.
Creswell, J. W.(2014). Educational Research-Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research.
Denhardt, Jabet V & Robert B, Denhardt. (2007). The New Public Service (expanded edition) Serving, not Steering. New York: M.E Sharpe, Inc.
Herzig, Christian & Schltegger, Stefan. (2006). Coorporate Suistain ability Reporting (an Overview). In: Schaltegger S., Bennett M.,BurrittR. (eds) Sustainability Accounting and Reporting. Springer, Dordrecht.
Hooge, Liesbet & Marks, Gary. (2003). Unravering the Central State, But How? Types of Multi-Level Governance. Reihe Politic Wissen schaff Political Science Series.
Lee,Christoper D.(2005). Rethinking the Goals of Your Performance-Management System.
Meier, Kenneth J.,&Jr.,L.J.O.(2006). Bureaucracy in a Democratic State The Johns Hopkins University Press.
Merriam, S. B.(2016). Qualitative Research- A Guide to Design and lmplementation (p.1353). Jossey Bass.
Neo, B. S. dan Chen, G. (2007). Dynamic Governance: Embedding Culture, Capabilities and Change in Singapore. Singapore: World Scientific Publishing.
Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja lnstansi Pemerintah
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2009 Tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi pemerintahan Pemerintah.
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah,
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 Tentang Klasifikasi, Kodefikasi,Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan Dan Keuangan Daerah
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Laporan Dan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2021 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2022
Peraturan Menteri Pendayaguanaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi Nomor 89Tahun 2021 Tentang Penjenjangan Kinerja Instansi Pemerintah
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 88 tahun 2021 tentang Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi
Peters, B. G. (2007). Public Accountability of Autonomous Public Organizations. In Linkages: Responsibilities and Accountabilities (Vol. 3,pp.297-336).
Peters, B.G & Jon Pierre. (2007). Handbook of Public Policy. London: SAGE Publications.
Peters, B.G.(2007). Performance - based accountability. In A.Shah (Ed.). Performance accountability and combating corruption (pp. 15-32). Washington, DC: The World Bank.
Roh, J. (2018). Improving the govemment performance management system in South Korea Focusing on central Govenment agencies. Asian Education and Development Studies, 7(3),266-278.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatifdan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono, (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D、Bandung: Alfabeta.
Edi Suharto, 2014, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat (Kajian. Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial),. PT.Refika Aditama.
Suradinata. (2014) Analisis Kepemimpinan ASOCA (Strategi Pengambilan Keputusan) Alqaprint-Jatinagor

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penghapusan Sistem Noken di Papua dan Penerapan Sistem Demokrasi yang Lebih Inklusif

  Jurnal:  Oleh : Marinus Moy Yumai   Penghapusan Sistem Noken di Papua dan Penerapan Sistem Demokrasi yang Lebih Inklusif Abstrak:   Sistem Noken yang digunakan dalam pemilihan umum di Papua sering kali mendapat kritik karena dianggap tidak transparan dan tidak mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi yang sesungguhnya. Metode ini, yang memiliki akar budaya dalam masyarakat Papua, dinilai telah menimbulkan berbagai masalah terkait hak pilih, manipulasi hasil pemilihan, dan ketidakadilan dalam proses politik. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak sistem Noken terhadap demokrasi di Papua, serta mengusulkan pentingnya transisi ke sistem demokrasi yang lebih inklusif dan berbasis pada suara individu. Kata Kunci: Sistem Noken, Demokrasi, Papua, Pemilihan Umum, Transparansi, Keadilan 1. Pendahuluan Papua, yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia, memiliki karakteristik budaya dan sosial yang unik. Dalam hal pemilihan umum, sistem Noken digunakan seb...

Transformasi organisasi THS THM menuju fokus pelayanan dan aspek spiritual

Pelayanan dan Spiritual THS Banyak senior THS THM yang meminta agar organisasi THS THM bukan dibina untuk pendekar yg jago beladiri namun menjadi wadah pelayanan, mengayomi dan menjadi spritual pelayanan dengan benar saya ingin mengemukakan pandangan tentang perubahan fokus organisasi THS dan THM menjadi lebih berorientasi pada pelayanan dan aspek spiritual daripada hanya beladiri. Ini adalah konsep yang menarik untuk memperluas peran organisasi tersebut. Banyak senior THS THM yang meminta agar organisasi THS THM bukan dibina untuk pendekar yg jago beladiri namun menjadi wadah pelayanan dan mengayomi menjadi spritual pelayanan dgn benar. Tolong buatkan jurnal... Judul Jurnal: Transformasi Organisasi THS dan THM Menuju Fokus Pelayanan dan Aspek Spiritual. Abstrak: Jurnal ini menggambarkan perubahan yang diusulkan dalam organisasi THS (Tinju Himpunan Setia) dan THM (Tangan Himpunan Merpati) dari pendekar beladiri menjadi wadah pelayanan yang lebih berfokus pada aspek spiritual. T...

Jurnal : Kriteria Keberhasilan Otonomi Khusus (Otsus)

  Jurnal: Oleh : Marinus Moy yumai  Kriteria Keberhasilan Otonomi Khusus (Otsus) di Papua:  Evaluasi Berdasarkan Perspektif Pembangunan Sosial dan Ekonomi Abstrak Otonomi Khusus (Otsus) yang diberikan kepada Provinsi Papua merupakan kebijakan yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat pengakuan terhadap hak-hak budaya dan adat. Namun, keberhasilan pelaksanaan Otsus di Papua tidak dapat dinilai secara tunggal, karena melibatkan berbagai dimensi sosial dan ekonomi yang saling terkait. Jurnal ini membahas kriteria-kriteria utama yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan Otsus di Papua, yang meliputi pengurangan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemajuan hak asasi manusia dan hak adat, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai dampak dan efektivitas Otsu...