DETIKPAPUA.COM;- Yoyakim Mujizau selaku Wakil Ketua Tim mediasi Konflik Bersenjata dalam Rangka Penegakkan Hukum terhadap TPN/OPM diwilayah hukum Intam Jaya, dirinya mengatakan masyarakat harus menjadi Objek utama yang dilindungi dan di hormati kedudukan mereka oleh setiap manusia termasuk dalam Kondisi Perang Ideologi maupun Perang Saudara, Senin, 1 Mei 2023.
Yoyakim Mengjelaskan Dalam Budaya Perang suku di wilayah Papua terutama wilayah Gunung masyarakat tidak dipanah atau membunuh sembarangan selain mereka yang ada dalam pasukan perang dan telah berada dimedan perang serta memegang alat perang, yang berperang hanya laki-laki dewasa dan Pemuda, sedangkan Ibu-Ibu, anak-anak, Orang Tua dan kepala suku tidak boleh di panah apalagi orang yang terpandang seperti Tokoh Agama, Guru, tenaga kesehatan dan Pejabat pemerintah.
Dirinya juga menjelaskan akhir-akhir ini banyak sekali muncul informasi-informasi yang dapat memperkeruh suasana konflik di Intan Jaya dengan pemberitaan lewat media Cetak, eletronik maupun Medsos. Pemerintah Kabupaten Intan Jaya saat melakukan pembentukan Tim Mediasi Penanganan Konflik bersenjata oleh TNI/Polri dalam rangka penegakkan Hukum terhadap TPN/OPM di wilayah Hukum Kabupaten Intan Jaya telah mengeluarkan Himbauan Bupati Intan Jaya No.001.10/358/Bup pada poin No. 7. Kepada Seluruh Komponen Masyarakat (Pejabat Pemerintah, Pegawai ASN, dan Seluruh Stake Holder) agar bijak sana dalam Menggunakan Media Sosial (WhatSap, facebook, Masangger, dll) agar tidak memperkeruh suasana di dalam Masyarakt.\
Maka kami sampaikan agar seluruh Komponen yang berkepentingan di Intan Jaya terutama TPN/OPM tidak menjadikan masyarakat sebagai Tameng dan juga kepada TNI/Polri dalam penegakan hukum tidak secara Preventif namun masyarakat dilindungi hak Hidupnya dengan memberikan jaminan keamanan, kedamaian, ketentraman oleh semua pihak.
Masyarakat merasa maju kena, mundur pun kena sebab konflik yang terjadi bukan konflik perang menggunakan alat tradisional panah melainkan Senjata api.
Yang berperang/konflik ini terjadi antara kombatan dengan Kombatan, yang bersenjata dengan yang bersenjata, Dalam konflik ini masyarakat selalu yang menjadi korban salah tembak, kena peluruh nyasar, di bunuh karena dianggap mata-mata TNI/Polri, dibunuh, disiksa karena dianggap mata-matanya TPN/OPM atau berafiliasi dengan TPN/OPM sehingga masyarakat Intan Jaya menjadi takut dan Trauma berlebihan.
Masyarakat Intan Jaya kampung Bilogai, Kampung Kumbalagupa, kampung mamba dan sambili menyatakan Perang melawan OPM secara sepontan karena takut hidup dalam tekanan serta terancam sebab konflik ini sejak tahun 2019 muncul sampai hari ini. Sehingga media-media diharapkan tidak mempropoganda masyarakat, Sebenarnya masyarakat tidak ingin mati bodoh-bodoh seperti tahun-tahun lalu, masyarakat tidak mungkin kemana-mana dan tidak mungkin pindah ke kota atau kampung lain yang dianggap aman menurut mereka, mereka tidak mungkin menyatakan Perang sebab ketakutan menghantui mereka tiap hari. Sesudah daerah aman Tidak mungkin mereka pergi meninggalkan kampung mereka, mereka tidak dikawal oleh aparat keamanan saat beraktivitas, mereka tidak dikasih makan setiap hari oleh Pemerintah, mereka harus bebas bergerak dan hidup di kampungnya.
Masyarakat mengungsi ke kampung-kampung yang jauh dari kampung yang sedang konflik tinggalkan Rumah mereka, Hewan ternak, Kebun dan juga keluarga berantahkan serta tercerai-berai sebab masing-masing lari menyelamatkan diri. Masyarakat pulang dari Hutan cari kayu bakar, kebun ambil bahan makanan, ketemu TNI/Polri di jalan pasti ditanya dan dianggap “kamu Mata-mata OPM” dan juga sebaliknya Saat berangkat pergi mencari kayu bakar dan bahan makanan lalu dijalan ketemu OPM pasti ditangkap, ditanya “ kamu mata-mata TNI/Polri” jadi Masyarakat sangat tidak bebas dan hidup dalam tekanan secara jiwa dan batinnya.
Oleh Karena itu Kami Tim mediasi Konflik Memohon kepada TNI/Polri , TPN/OPM untuk jedah kemanusiaan dengan kata lain masing-masing menahan diri tidak saling mengejar dan kepada Pemerintah Intan Jaya, DPR Intan Jaya dan oknum intelektual agar tidak mengajak masyarakat Ikut Dalam Perang atau Konflik yang sedang terjadi di Intan Jaya. Karena adanya isu yang berkembang lewat sosial media membuat masyarakat tidak aman karena merasa ketakutan di rumah dan kampungnya sendiri dari pemberitaan-pemberitaan ini. Juga Agar kami Tim bisa lakukan mediasi kepada Saudara-saudara kita yang berbeda pandangan dengan NKRI tanpa takut, kuatir sehingga bisa mediasi dengan baik demi keaman, kedamaian, kesejahteraan dan pembangunan serta menjalankan Roda Pemerintahan di kabupaten Intan Jaya dengan baik.
blogger Moy(ewopugabi).

Komentar
Posting Komentar